Selasa, 27 Oktober 2009

KETAHANAN PANGAN

ni sebenernye tugas dari dosen gua,tapi sekalian gua terbitin di blog gua,supaya kita sadar pentingnya ketahana pangan,heri ini harus lebih baik dari hari kemarin.oke soob,

Nama : Ahmad Abdillah Martak
NPM : 03.2008.1.06549
No Absen : 11
Kelas : A
TTD :

MASALAH pangan dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi topik sentral di dunia, termasuk negara subur seperti Indonesia. Sejak 2007, Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang rawan pangan, bersama 37 negara lainnya. Antara lain Irak, Afghanistan, Korea, Timor Leste, Bangladesh, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.
Untuk sementara, tingkat bencana alam, seperti banjir, gempa, kekeringan, dan longsor diperkirakan menjadi salah satu penyebab kerawanan pangan di Indonesia. Demikian Corps Prospect and Food Situation sebagaimana dirilis lembaga pertanian dan pangan dunia, Food and Agriculture Organization (FAO).Beberapa tahun sebelumnya, kita pernah digemparkan oleh berita krisis pangan, seperti busung lapar yang diderita oleh anak-anak balita. Sekitar tahun 2006, sekitar 2-4 anak dari 10 anak di 72% kabupaten seluruh Indonesia diperkirakan menderita kurang gizi. Pada 11 November sampai 7 Desember tahun 2005, di Yahukimo, Papua 55 warganya meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan pangan.
Beberapa dasawarsa sebelumnya, ketahanan pangan Indonesia sangat kuat. Lumbung-lumbung pangan dihidupkan di mana-mana. Indonesia tahun 1985 pernah mendapat penghargaan medali emas dari FAO karena kekuatan pangan yang dimilikinya. Indonesia berhasil mengalahkan China dan India yang sama-sama duduk jadi nominasi kuat. Berkat torehan itu, Indonesia sangat disegani, sehingga dijuluki sebagai “macan Asia”.
Presiden SBY mengatakan, dari sekitar 6,3 miliar jumlah penduduk dunia, 200 juta orang tidak dapat tidur karena kelaparan. Dengan demikian, kerentanan pangan tidak hanya menjadi persoalan kita saja, melainkan persoalan dunia. Pada tahun 2007, penduduk Indonesia diperkirakan sudah mencapai 232,9 juta dan 236,4 juta pada tahun 2008. Tahun 2050 diperkirakan akan berjumlah 280 juta jiwa. Laju perkembangan penduduk yang cepat mendatangkan persoalan tersendiri dalam masalah ekonomi. Kira-kira begitu yang diyakini para ekonom seperti Thomas Robert Maltus, David Ricardo, Roy Forbes Harrod, dan Evsey D. Domar.
Krisis pangan dapat terjadi ketika antara produksi dan tingkat konsumsi tidak berimbang. Tahun 1997-2002, tingkat produksi kebutuhan pokok terus menurun. Pada tahun 2003 saja, kita hanya mampu memproduksi beras sekitar 31,2 juta ton, sementara seiring laju penduduk kebutuhan konsumsi terus meningkat 2,5%-4%. Sektor kedelai lebih parah lagi. Pengamat pertanian Sapuan Gafar menjelaskan, dari tahun 1999-2007 impor kedelai melebihi 1 juta ton dengan tingkat produksi 0,6 juta ton tahun 2007. Padahal tahun 1992, Indonesia mampu memproduksi 1,8 juta ton kedelai.
Masalah kerentanan pangan harus cepat dicarikan solusinya. Beberapa langkah strategis perlu dilakukan, Misalnya intensifikasi pertanian, restrukturisasi industri pascapanen, atau mengkaji ulang retribusi. Tidak kalah pentingnya menempatkan posisi koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai salah satu lembaga perekonomian yang mendorong usaha kemandirian pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) pernah mengeluarkan hasil risetnya pada tahun 2004 bahwa sumbangsih perdagangan dalam negeri banyak diperankan oleh UKM. Dari seluruh produksi UKM yang sebesar Rp 1.107,54 triliun, sekitar Rp 439,86 triliun atau 39,72%-nya berasal dari nilai produksi yang diberikan UKM berbasis pangan. Jadi, sudah seharusnya perhatian tertuju pada kekuatan UKM dalam membangun ketahanan pangan di Indonesia.
Keberadaan UKM patut diperhatikan oleh semua pihak dalam membangun ketahanan pangan. Kasus kenaikan harga kedelai dapat menjadi pelajaran. Di Purwodadi diperkirakan sekitar 115 pengusaha tahu dan tempe gulung tikar akibat kenaikan harga kedelai. Berdasarkan data IKM Depperin, terdapat sekitar 96.000 unit pengusaha tahu dan tempe yang terancam bangkrut akibat kenaikan harga kedelai. Sesuai UU No.25/2000, pemerintah pernah mencoba mencanangkan peningkatan ketahanan pangan yang sebagian di antaranya mencakup pengembangan bisnis dan kelembagaan pangan. Berdasarkan hal tersebut, revitalisasi UKM dalam membangun ketahanan pangan perlu dilakukan, seperti memberikan subsidi pangan bagi usaha kecil dan menengah.
Tampaknya ada beberapa kendala yang mungkin akan dihadapi dan perlu diantisipasi oleh UKM dalam menjalankan gerak usahanya, khususnya UKM pangan. Pertama, lemahnya akses modal. Sampai saat ini akses modal masih menjadi persoalan bagi pengembangan unit-unit UKM, seperti dikeluhkan oleh para pengusaha/pengrajin. Masih tingginya suku bunga kredit di bank memperlambat pertumbuhan UKM.Kendala ini dirasakan oleh sekitar 61% UKM dari 42 juta unit UKM di Indonesia. Salah satu kendalanya terkait sertifikasi tanah, sehingga UKM susah mendapat kredit dari perbankan. Sementara ini realisasi sertifikat tanah hanya 32,57% dari target tahun 2006. Target sertifikat tanah tahun 2007 sekitar 13.000 yang digabung dengan target 2006 sebanyak 10.240 unit.
Sekalipun Inpres No 06/2007 mendesak memperkuat sektor riil, tetapi realisasinya masih minim. Kondisi tersebut menjadikan akses modal bagi UKM tersendat. Karena itu semua pihak harus memberikan ruang dan peluang akses modal bagi UKM.
Kedua, kendala dalam akses pasar. Masalah akses pasar menjadi persoalan bagi UKM. Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) pernah menjelaskan bahwa dari sekitar 41 juta unit UKM, hanya 10 persen saja yang mampu menembus pasar luar negeri. Selain itu, sebagian besar UKM sangat lemah dalam mempromosikan produknya sehingga cenderung kalah bersaing. Karena itu, dorongan pemerintah dan swasta diperlukan untuk memperkuat akses pasar UKM.
Ketiga, tumpuannya terletak pada kualitas sumber daya manusia UKM. Jika dilihat dari segi pendidikan, rata-rata tingkat pendidikan pengusaha UKM 60% berpendidikan SLTA, 35% sampai SLTP, dan hanya 5% berpendidikan sarjana. Dari statistik tersebut, problem pengetahuan masih jadi problem di kalangan UKM. Selain itu, masalah produktivitas, etos kerja, profesionalitas, dan kemampuan manajerial.Apa pun masalahnya, melakukan revitalisasi UKM sebagai salah satu unit terpenting dalam membangun ketahanan pangan di Indonesia mendesak direalisasikan. Dengan begitu, pembangunan bangsa melalui ketahanan pangan berbasis UKM dapat tergapai.
v Apa yang ditakuti bangsa Indonesia bener-bener terjadi.
Harga dan pemenuhan kebutuhan pokok warga yang berbasis pertanian sudah didikte oleh bangsa lain. Hampir seluruh produk pertanian yang ada di Indonesia sekarang ini tidak terlepas dari cengkraman asing. Kenaikan harga-harga komoditas pertanian di tingkat harga dunia dapat dipastikan akan mempengaruhi tingkat harga lokal di Indonesia. Kenapa harga-harga produk pertanian dunia naik? Tentu saja kenaikan produk pertanian tidak terlepas dari naiknya tingkat harga minyak mentah dunia yang begitu tinggi sehingga negara-negara maju mengantisipasinya dengan cara menggantikan minyak mentah dengan biofuel yang dimana biofuel hanya dapat dihasilkan dari produk-produk pertanian.
Amerika Serikat contohnya, AS merupakan negara penghasil kedelai terbesar di dunia tetapi setelah harga minyak mentah naik. AS merubah sebagian hasil kedelainya ± 15% menjadi biofuel. Otomatis harga kedelai akan naik karena supply kedelai tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat akan kedelai yang semakin meningkat. Tidak hanya kedelai, komoditas lainnya seperti beras, gandum, jagung dan minyak sawit terkena imbas lonjakan harga akibat pengalihan minyak mentah tersebut.
Harga kedelai dunia saat ini naik 100% yaitu dari ±300 dolar AS per ton pada awal tahun 2007 menjadi ±600 dolar AS per ton pada akhir tahun 2007. Begitu pula dengan komoditas lainnya (2 tahun terakhir) beras naik 18,25% dari $274,67 menjadi $324,8 per ton, Gandum naik 108,02% dari $180,01 menjadi $374,45 per ton, Jagung naik 48,76% dari $53,98 menjadi $80,3 dan minyak sawit naik 124,28% dari $420,23 menjadi $942,5. Padahal untuk diketahui saja, kita adalah salah satu importir terbesar kedelai yaitu sebesar 68,5% dari kebutuhan nasional, importir jagung sebesar ±25%, dan yang paling parah adalah gandum/terigu yaitu 100% kebutuhan nasional kita import seluruhnya dari Amerika Serikat.
Pada awal januari 2007 lalu harga lokal kedelai eceran masih sekitar Rp 3.450 tetapi setelah AS mengeluarkan kebijakan pengalihan minyak mentah dengan biofuel sekarang harga lokal kedelai telah berubah menjadi Rp 7.500/kg. Harga kedelai dan komoditas lainnya diprediksi akan terus mengalami kenaikan seiring naiknya harga minyak mentah di pasar dunia yang semakin tinggi dan lahan pertanian kedelai yang tiap tahunnya mengalami penyusutan. Menunggu turunnya harga kedelai dan komoditas lainnya tanpa kita berusaha mencoba untuk memproduksi kebutuhan sendiri sama saja menunggu kucing bersahabat dengan tikus (emangnya Tom and Jerry :p) alias ga mungkin githu lho !!.
Jangan pernah beralasan tanpa berbuat yaitu dengan mengatakan (selalu untung ga mau rugi he..he) "Untung saja hanya kedelai (bukan termasuk salah satu dariJ 9 bahan pokok) coba kalau beras kita bisa ga makan". Seharusnya kita memperkuat ketahanan pangan kita di seluruh produk-produk petanian tanpa terkecuali bukannya mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan apa yang kita perbuat selama ini. Apa ga malu dengan Negara Vietnam? Pada tahun 80-an Vietnam masih dilanda perang saudara bahkan dengan Amerika (yang dimana Rambo sebagai jagoannya) dan luas wilayahnya pun hanya 329.560 km2 bandingkan dengan Indonesia yang luasnya hampir mencapai 2 juta km2 tetapi kenapa Vietnam bisa dinobatkan sebagai penghasil beras terbesar dunia? Vietnam juga telah memiliki pangsa pasar beras sebesar 40-45% kebutuhan beras pasar dunia dan yang paling menyakitkan adalah kita sebagai negara agraris harus melakukan impor beras dari Vietnam untuk mengatasi kekurangan pasokan beras serta menstabilkan harga beras secara nasional sebanyak 1, 5 juta ton/tahun. So, Apa yang harus kita lakukan? tidak ada jalan lain selain kita harus mandiri dan terbebas dari campur tangan asing. Anda siap?

Penulis adalah: Alumni IPB Bogor/dosen di berbagai PTS dan Pascasarjana MM Nommensen Medan/Direktur Eksekutif Dairi Research and Development Center (DaiRedC)

[SB] Tags : Ir. Bridon Silaban MKom. MBA Sumber : ___ Medan Bisnis Online
: acioahmad.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar