Rabu, 28 Oktober 2009
CARA MATI
Adakah cara mati seseorang berbeda dengan orang kebanyakan? Adakah cara mati yang diluar nalar manusia. Misalkan mati tanpa menghembuskan nafas terakhir, atau mati dengan nafas tetap berhembus. Atau mungkin ada orang yang mati namun ia masih berbincang-bincang. Adakah persepsi kita tentang mati berbeda-beda?Saya tidak hendak bicara tentang tahayul, bahkan ini adalah realita. Pada dasarnya pandangan kita tentang mati adalah sama, orang mati ya tidak bernafas, tidak bergerak dan tidak pula bicara. Setiap orang mati dalam keadaan yang sama, meninggalkan kegetiran dalam sebentuk jasad, dan onggokan daging yang tak lagi memiliki ciri kehidupan. Itulah mati, algoritmanya tidak berubah sepanjang masa, tua muda, kaya miskin, aktifis atau pengangguran, semua mengalami kematian dalam urutan yang sama.Secara kedokteran tradisional mati dapat didefinisikan dengan sederhana yaitu berhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan : sistem syaraf pusat, jantung dan paru, secara permanent (permanent cessation of life). Ini yang disebut sebagai mati klinis atau mati somatis. Seorang yang mati dengan seluruh sistem pernafasan dan jantung berhenti belum dinamakan mati secara final, selama sistem syaraf pusatnya masih bekerja.Saya sedikit meringis ketika mengetahui betapa peristiwa yang sebenarnya sudah biasa dan sering kita temui, ternyata begitu kompleks dan rumit. Pada dasarnya saya, anda dan orang kebanyakan berfikir bahwa mati adalah hilangnya nyawa dari jasad. Begitulah, nyawa menjadi kambing hitam akan keberadaan hidup manusia, namun dimana dan seperti apa nyawa adalah belum pernah terbukti secara ilmiah. Fakta yang sungguh menyakitkan. Sejauh dan sehebat ilmu pengetahuan teknologi modern manusia hari ini, ternyata belum bisa memformulasikan nyawa.Mungkin sudah ratusan penelitian yang dilakukan untuk menemukan ”bentuk’ nyawa sesungguhnya. Namun, hingga hari ini tetap tak ada claim dan paten tentang siapa penemu nyawa. Mungkin berbagai detektor gelombang dan sensor sinyal telah dibuat tetap saja roh dan nyawa menjadi onggokan kata dalam sampah metafisika.Namun, marilah kita renungkan sejenak, pada dasarnya kita memang memiliki definisi yang sama tentang kematian. Ketika mengetahui seorang dalam kondisi mati, kita akan berfikir tentang kondisi tidak bergerak, tidak bernafas, tidak berpikir, tidak menanggapi, yang semua ini merupakan kondisi akhir dari hidup manusia. Inilah pandangan fundamental manusia tentang mati. Bukan mati otak, mati somatic atau mati klinis.Kita bisa buktikan ini di sekitar kita. Seorang mahasiswa dengan kendaraan bermotor mengalami kecelakaan dan terluka di bagian kepala akhirnya mati karena kehabisan darah. Seorang pengusaha kaya sekarat di atas ranjang rumah sakit mewah akhirnya mati karena kanker ganas menggerogoti paru-parunya. Seorang ibu muda melepaskan seluruh kekuatannya saat melahirkan anak pertamanya akhirnya mati karena pendarahan hebat. Saat membaca ketiga kondisi mati ini kita akan terfikir tentang mati yang sama. Hingga kini dan selanjutnya, definisi mati pada diri kita tak pernah berubah, pada siapa saja dimana saja, mati merupakan kondisi tidak bergerak, tidak bernafas, tidak berpikir, tidak menanggapi, yang semua ini merupakan kondisi akhir dari hidup manusia.Tak ada lagi manusia bicara setelah mati, tak ada lagi manusia bergerak, bernafas, semua ciri kehidupan telah usai setelah mati. Jasad utuh tiada guna, meski seorang mati dalam keadaan segar bugar, misalkan mati terkena racun, atau mati karena kehabisan nafas. Seluruh bagian tubuh yang masih segar menjadi tanpa arti, jantung, paru-paru, mata, karena hilangnya satu komponen : nyawa, maka mereka tak lagi berarti. Meskipun sel-sel tubuh masih hidup, untuk beberapa jam, bahkan sel-sel hati masih hidup hingga beberapa hari, adalah sia-sia karena kondisi mati sudah ‘on’.Mati memutus cerita indah dunia, meski mahasiswa itu baru saja mendapat cumlaude, meski pengusaha itu baru memenangkan sebuah transaksi besar, meski ibu muda itu mendapatkan cinta tulus seorang lelaki idaman, tetap saja, mati adalah akhir cerita hidup. Siapapun, dimanapun, ia tetap sama. Algoritmanya tidak berubah sepanjang masa.Setelah mati, jasad dikubur, keluarga meminta maaf, harta warisan dibagi dan habislah perkara. Setiap orang, tak melihat apakah dia pejabat, rakyat, aktifis mahasiswa atau pengangguran, semua mengalami kondisi mati dalam runtun yang sama.Jika memang demikian, lalu apa yang membedakan manusia? Apakah gerangan yang membedakan cara mati kita dengan orang lain?Satu hal yang membedakan cara mati manusia, adalah cara hidupnya. Waktu manusia menyusun cerita, itulah hidup. Saat nafas, gerak, ucapan, pikiran masih berfungsi, itulah waktu yang diberikan pada kita. Cara hidup inilah yang menentukan cara mati kita. Bagaimana kita menggunakan nafas, gerak, ucapan, pikiran, saat semua itu berfungsi, akan menentukan cara mati kita, apakah baik atau buruk.Mahasiswa itu mungkin mati dalam kondisi baik, karena setelah mati ia dikunjungi ratusan teman, sahabat, keluarga yang ingin melayat di rumahnya. Ia kecelakaan saat pulang pengajian dan baru saja mengakhiri amanah sebagai ketua lembaga dakwah kampus dengan predikat sangat baik. Joni sang pengusaha, layatannya sepi pengunjung, setelah kematiannya hartanya jadi rebutan, ada pula komite yang menduga korupsi di perusahaannya, belum lagi tanggungan utang yang ternyata ia simpan diam-diam. Sementara Rani, ibu muda itu meninggal dengan tersenyum. Senyumnya ditangisi oleh suami yang tabah dan bayi perempuan yang cantik rupawan.Syeikh Ahmad Yasin, diantar ribuan orang saat jasadnya dibawa ke tanah peraduan. Namanya dikenang, jasanya dihargai, dan hidupnya menjadi inspirasi banyak orang. Hasan Al-Banna, meski meninggal dengan sangat cepat dan mengagetkan, banyak orang yang turut menangis di sela sholat ghoibnya. Namanya tak pernah dilupakan, pemikirannya terus mengalir, dan banyak pula manusia yang berubah dengan membaca buku dan mengikuti pemikirannya. Dan Muhammad, seorang nabi paling sabar, meninggal dengan mengingat umatnya, ‘ummati… ummati…’ Shalawat dan salam bagi Muhammad, nabi yang tak pernah merasakan enaknya tidur dengan bantal dan kasur.Kamal AtTaturk, Ariel Sharon, Lenin, mereka meninggal dengan kehinaan. Banyak cacian dan makian selama hidup mereka, dan saat mati, lebih banyak lagi yang bersyukur dan berdoa supaya orang-orang seperti mereka tidak hidup kembali.Bukankah cara mati kita ternyata berbeda-beda. Cara mati mana yang anda pilih? Jika anda mulai berfikir tentang cara mati, mulai sekarang, berfikirlah tentang cara hidup. Sebuah hadist Nabi cukup untuk mengingatkan kita bersama.“Orang yang cerdas adalah orang yang menjaga dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah mati”Wallahua’lam bisshowwab
KATIKA ORANG TUA KITA BERUSIA LANJUT
Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah tua dan lemah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Isra’ ayat 23 dan 24 dalam pembahasan sebelumnya.
Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa Rabb (Allah) telah memerintahkan kepada manusia agar tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja. Kemudian hendaklah manusia berbuat sebaik-baiknya kepada kedua orang tuanya. Jika salah seorang atau kedua-duanya ada di sisinya dalam usia lanjut maka jangan katakan kepada keduanya perkataan ‘uh’ serta tidak boleh membentak keduanya, memukulkan tangan, menghentakkan kaki karena hal itu termasuk durhaka kepada kedua orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.
Pada ayat ini Allah mengatakan ‘kibara’, kibar atau kibarussin artinya berusia lanjut, sedangkan ‘indaka’ berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena :
Pertama
Keadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada saat itu sangat lemah.
Kedua
Semakin tua usia orang tua berarti semakin lama orang tua bersama anak. Hal ini dapat menyebabkan ‘Si Anak’ merasa berat sehingga dikhawatirkan akan berkurang berbuat baiknya, karena segala sesuatunya diurusi oleh anak dan keluarlah perkataan ‘ah’ atau membentak atau dengan ucapan, “Orang tua ini menyusahkan”, atau yang lain. Apalagi apabila orang tuanya sudah pikun, akan membuat anak mudah marah atau benci kepadanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berwasiat agar manusia selalu ingat untuk berbakti kepada kedua orang tua.
Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih berada di sisi kita. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat yaitu :
“Artinya : Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]
Kemudian hadits berikut ini :
“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”. Para sahabat bertanya. “Kenapa engkau berkata ‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”. [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah]
Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang masih berusia lanjut. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.
Jika kita mencoba membandingkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan jalan mengurusi kedua orang tua yang sudah lanjut usia atau bahkan sudah pikun yang berada di sisi kita dengan ketika kedua orang tua kita mengurusi dan mebesarkan serta mendidik kita sewaktu masih kecil, maka berbakti kepada keduanya masih terbilang labih ringan. Mungkin kita mengurusnya hanya beberapa tahun saja. Sedangkan mereka mengurus kita membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dari mulai hamil, hingga dilahirkan kemudian disekolahkan. Kedua orang tua kita memberikan segala yang kita minta mungkin lebih dari 10 tahun bahkan sampai 25 tahun.
Ketika orang tua mengurusi kita, dia mendo’akan agar si anak hidup dengan baik dan menjadi anak yang shalih, tetapi ketika orang tua ada di sisi kita, di do’akan supaya cepat meninggal. Bahkan ada di antara mereka yang menyerahkan keduanya ke panti jompo. Ini adalah perbuatan dari anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
Bagaimanapun keadaannya, kedudukan mereka tetaplah sebagai orang tua kita, walaupun mereka bodoh, kasar atau bahkan jahat kepada kita. Dialah yang melahirkan dan mengurusi kita, bukan orang lain. Maka kita wajib berbakti kepada keduanya bagaimanapun keadaannya. Seandainya dia berbuat syirik atau bid’ah, kita wajib mendakwahkan kepadanya dengan baik supaya dia kembali, kita do’akan supaya mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan diperlakukan dengan tidak baik, berbuat kasar atau pun yang lainnya.
[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]
Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/417/slash/0
Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah tua dan lemah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Isra’ ayat 23 dan 24 dalam pembahasan sebelumnya.
Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa Rabb (Allah) telah memerintahkan kepada manusia agar tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja. Kemudian hendaklah manusia berbuat sebaik-baiknya kepada kedua orang tuanya. Jika salah seorang atau kedua-duanya ada di sisinya dalam usia lanjut maka jangan katakan kepada keduanya perkataan ‘uh’ serta tidak boleh membentak keduanya, memukulkan tangan, menghentakkan kaki karena hal itu termasuk durhaka kepada kedua orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.
Pada ayat ini Allah mengatakan ‘kibara’, kibar atau kibarussin artinya berusia lanjut, sedangkan ‘indaka’ berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena :
Pertama
Keadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada saat itu sangat lemah.
Kedua
Semakin tua usia orang tua berarti semakin lama orang tua bersama anak. Hal ini dapat menyebabkan ‘Si Anak’ merasa berat sehingga dikhawatirkan akan berkurang berbuat baiknya, karena segala sesuatunya diurusi oleh anak dan keluarlah perkataan ‘ah’ atau membentak atau dengan ucapan, “Orang tua ini menyusahkan”, atau yang lain. Apalagi apabila orang tuanya sudah pikun, akan membuat anak mudah marah atau benci kepadanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berwasiat agar manusia selalu ingat untuk berbakti kepada kedua orang tua.
Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih berada di sisi kita. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat yaitu :
“Artinya : Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]
Kemudian hadits berikut ini :
“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”. Para sahabat bertanya. “Kenapa engkau berkata ‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”. [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah]
Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang masih berusia lanjut. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.
Jika kita mencoba membandingkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan jalan mengurusi kedua orang tua yang sudah lanjut usia atau bahkan sudah pikun yang berada di sisi kita dengan ketika kedua orang tua kita mengurusi dan mebesarkan serta mendidik kita sewaktu masih kecil, maka berbakti kepada keduanya masih terbilang labih ringan. Mungkin kita mengurusnya hanya beberapa tahun saja. Sedangkan mereka mengurus kita membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dari mulai hamil, hingga dilahirkan kemudian disekolahkan. Kedua orang tua kita memberikan segala yang kita minta mungkin lebih dari 10 tahun bahkan sampai 25 tahun.
Ketika orang tua mengurusi kita, dia mendo’akan agar si anak hidup dengan baik dan menjadi anak yang shalih, tetapi ketika orang tua ada di sisi kita, di do’akan supaya cepat meninggal. Bahkan ada di antara mereka yang menyerahkan keduanya ke panti jompo. Ini adalah perbuatan dari anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
Bagaimanapun keadaannya, kedudukan mereka tetaplah sebagai orang tua kita, walaupun mereka bodoh, kasar atau bahkan jahat kepada kita. Dialah yang melahirkan dan mengurusi kita, bukan orang lain. Maka kita wajib berbakti kepada keduanya bagaimanapun keadaannya. Seandainya dia berbuat syirik atau bid’ah, kita wajib mendakwahkan kepadanya dengan baik supaya dia kembali, kita do’akan supaya mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan diperlakukan dengan tidak baik, berbuat kasar atau pun yang lainnya.
[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]
Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/417/slash/0
Selasa, 27 Oktober 2009
KETAHANAN PANGAN
ni sebenernye tugas dari dosen gua,tapi sekalian gua terbitin di blog gua,supaya kita sadar pentingnya ketahana pangan,heri ini harus lebih baik dari hari kemarin.oke soob,
Nama : Ahmad Abdillah Martak
NPM : 03.2008.1.06549
No Absen : 11
Kelas : A
TTD :
MASALAH pangan dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi topik sentral di dunia, termasuk negara subur seperti Indonesia. Sejak 2007, Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang rawan pangan, bersama 37 negara lainnya. Antara lain Irak, Afghanistan, Korea, Timor Leste, Bangladesh, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.
Untuk sementara, tingkat bencana alam, seperti banjir, gempa, kekeringan, dan longsor diperkirakan menjadi salah satu penyebab kerawanan pangan di Indonesia. Demikian Corps Prospect and Food Situation sebagaimana dirilis lembaga pertanian dan pangan dunia, Food and Agriculture Organization (FAO).Beberapa tahun sebelumnya, kita pernah digemparkan oleh berita krisis pangan, seperti busung lapar yang diderita oleh anak-anak balita. Sekitar tahun 2006, sekitar 2-4 anak dari 10 anak di 72% kabupaten seluruh Indonesia diperkirakan menderita kurang gizi. Pada 11 November sampai 7 Desember tahun 2005, di Yahukimo, Papua 55 warganya meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan pangan.
Beberapa dasawarsa sebelumnya, ketahanan pangan Indonesia sangat kuat. Lumbung-lumbung pangan dihidupkan di mana-mana. Indonesia tahun 1985 pernah mendapat penghargaan medali emas dari FAO karena kekuatan pangan yang dimilikinya. Indonesia berhasil mengalahkan China dan India yang sama-sama duduk jadi nominasi kuat. Berkat torehan itu, Indonesia sangat disegani, sehingga dijuluki sebagai “macan Asia”.
Presiden SBY mengatakan, dari sekitar 6,3 miliar jumlah penduduk dunia, 200 juta orang tidak dapat tidur karena kelaparan. Dengan demikian, kerentanan pangan tidak hanya menjadi persoalan kita saja, melainkan persoalan dunia. Pada tahun 2007, penduduk Indonesia diperkirakan sudah mencapai 232,9 juta dan 236,4 juta pada tahun 2008. Tahun 2050 diperkirakan akan berjumlah 280 juta jiwa. Laju perkembangan penduduk yang cepat mendatangkan persoalan tersendiri dalam masalah ekonomi. Kira-kira begitu yang diyakini para ekonom seperti Thomas Robert Maltus, David Ricardo, Roy Forbes Harrod, dan Evsey D. Domar.
Krisis pangan dapat terjadi ketika antara produksi dan tingkat konsumsi tidak berimbang. Tahun 1997-2002, tingkat produksi kebutuhan pokok terus menurun. Pada tahun 2003 saja, kita hanya mampu memproduksi beras sekitar 31,2 juta ton, sementara seiring laju penduduk kebutuhan konsumsi terus meningkat 2,5%-4%. Sektor kedelai lebih parah lagi. Pengamat pertanian Sapuan Gafar menjelaskan, dari tahun 1999-2007 impor kedelai melebihi 1 juta ton dengan tingkat produksi 0,6 juta ton tahun 2007. Padahal tahun 1992, Indonesia mampu memproduksi 1,8 juta ton kedelai.
Masalah kerentanan pangan harus cepat dicarikan solusinya. Beberapa langkah strategis perlu dilakukan, Misalnya intensifikasi pertanian, restrukturisasi industri pascapanen, atau mengkaji ulang retribusi. Tidak kalah pentingnya menempatkan posisi koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai salah satu lembaga perekonomian yang mendorong usaha kemandirian pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) pernah mengeluarkan hasil risetnya pada tahun 2004 bahwa sumbangsih perdagangan dalam negeri banyak diperankan oleh UKM. Dari seluruh produksi UKM yang sebesar Rp 1.107,54 triliun, sekitar Rp 439,86 triliun atau 39,72%-nya berasal dari nilai produksi yang diberikan UKM berbasis pangan. Jadi, sudah seharusnya perhatian tertuju pada kekuatan UKM dalam membangun ketahanan pangan di Indonesia.
Keberadaan UKM patut diperhatikan oleh semua pihak dalam membangun ketahanan pangan. Kasus kenaikan harga kedelai dapat menjadi pelajaran. Di Purwodadi diperkirakan sekitar 115 pengusaha tahu dan tempe gulung tikar akibat kenaikan harga kedelai. Berdasarkan data IKM Depperin, terdapat sekitar 96.000 unit pengusaha tahu dan tempe yang terancam bangkrut akibat kenaikan harga kedelai. Sesuai UU No.25/2000, pemerintah pernah mencoba mencanangkan peningkatan ketahanan pangan yang sebagian di antaranya mencakup pengembangan bisnis dan kelembagaan pangan. Berdasarkan hal tersebut, revitalisasi UKM dalam membangun ketahanan pangan perlu dilakukan, seperti memberikan subsidi pangan bagi usaha kecil dan menengah.
Tampaknya ada beberapa kendala yang mungkin akan dihadapi dan perlu diantisipasi oleh UKM dalam menjalankan gerak usahanya, khususnya UKM pangan. Pertama, lemahnya akses modal. Sampai saat ini akses modal masih menjadi persoalan bagi pengembangan unit-unit UKM, seperti dikeluhkan oleh para pengusaha/pengrajin. Masih tingginya suku bunga kredit di bank memperlambat pertumbuhan UKM.Kendala ini dirasakan oleh sekitar 61% UKM dari 42 juta unit UKM di Indonesia. Salah satu kendalanya terkait sertifikasi tanah, sehingga UKM susah mendapat kredit dari perbankan. Sementara ini realisasi sertifikat tanah hanya 32,57% dari target tahun 2006. Target sertifikat tanah tahun 2007 sekitar 13.000 yang digabung dengan target 2006 sebanyak 10.240 unit.
Sekalipun Inpres No 06/2007 mendesak memperkuat sektor riil, tetapi realisasinya masih minim. Kondisi tersebut menjadikan akses modal bagi UKM tersendat. Karena itu semua pihak harus memberikan ruang dan peluang akses modal bagi UKM.
Kedua, kendala dalam akses pasar. Masalah akses pasar menjadi persoalan bagi UKM. Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) pernah menjelaskan bahwa dari sekitar 41 juta unit UKM, hanya 10 persen saja yang mampu menembus pasar luar negeri. Selain itu, sebagian besar UKM sangat lemah dalam mempromosikan produknya sehingga cenderung kalah bersaing. Karena itu, dorongan pemerintah dan swasta diperlukan untuk memperkuat akses pasar UKM.
Ketiga, tumpuannya terletak pada kualitas sumber daya manusia UKM. Jika dilihat dari segi pendidikan, rata-rata tingkat pendidikan pengusaha UKM 60% berpendidikan SLTA, 35% sampai SLTP, dan hanya 5% berpendidikan sarjana. Dari statistik tersebut, problem pengetahuan masih jadi problem di kalangan UKM. Selain itu, masalah produktivitas, etos kerja, profesionalitas, dan kemampuan manajerial.Apa pun masalahnya, melakukan revitalisasi UKM sebagai salah satu unit terpenting dalam membangun ketahanan pangan di Indonesia mendesak direalisasikan. Dengan begitu, pembangunan bangsa melalui ketahanan pangan berbasis UKM dapat tergapai.
v Apa yang ditakuti bangsa Indonesia bener-bener terjadi.
Harga dan pemenuhan kebutuhan pokok warga yang berbasis pertanian sudah didikte oleh bangsa lain. Hampir seluruh produk pertanian yang ada di Indonesia sekarang ini tidak terlepas dari cengkraman asing. Kenaikan harga-harga komoditas pertanian di tingkat harga dunia dapat dipastikan akan mempengaruhi tingkat harga lokal di Indonesia. Kenapa harga-harga produk pertanian dunia naik? Tentu saja kenaikan produk pertanian tidak terlepas dari naiknya tingkat harga minyak mentah dunia yang begitu tinggi sehingga negara-negara maju mengantisipasinya dengan cara menggantikan minyak mentah dengan biofuel yang dimana biofuel hanya dapat dihasilkan dari produk-produk pertanian.
Amerika Serikat contohnya, AS merupakan negara penghasil kedelai terbesar di dunia tetapi setelah harga minyak mentah naik. AS merubah sebagian hasil kedelainya ± 15% menjadi biofuel. Otomatis harga kedelai akan naik karena supply kedelai tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat akan kedelai yang semakin meningkat. Tidak hanya kedelai, komoditas lainnya seperti beras, gandum, jagung dan minyak sawit terkena imbas lonjakan harga akibat pengalihan minyak mentah tersebut.
Harga kedelai dunia saat ini naik 100% yaitu dari ±300 dolar AS per ton pada awal tahun 2007 menjadi ±600 dolar AS per ton pada akhir tahun 2007. Begitu pula dengan komoditas lainnya (2 tahun terakhir) beras naik 18,25% dari $274,67 menjadi $324,8 per ton, Gandum naik 108,02% dari $180,01 menjadi $374,45 per ton, Jagung naik 48,76% dari $53,98 menjadi $80,3 dan minyak sawit naik 124,28% dari $420,23 menjadi $942,5. Padahal untuk diketahui saja, kita adalah salah satu importir terbesar kedelai yaitu sebesar 68,5% dari kebutuhan nasional, importir jagung sebesar ±25%, dan yang paling parah adalah gandum/terigu yaitu 100% kebutuhan nasional kita import seluruhnya dari Amerika Serikat.
Pada awal januari 2007 lalu harga lokal kedelai eceran masih sekitar Rp 3.450 tetapi setelah AS mengeluarkan kebijakan pengalihan minyak mentah dengan biofuel sekarang harga lokal kedelai telah berubah menjadi Rp 7.500/kg. Harga kedelai dan komoditas lainnya diprediksi akan terus mengalami kenaikan seiring naiknya harga minyak mentah di pasar dunia yang semakin tinggi dan lahan pertanian kedelai yang tiap tahunnya mengalami penyusutan. Menunggu turunnya harga kedelai dan komoditas lainnya tanpa kita berusaha mencoba untuk memproduksi kebutuhan sendiri sama saja menunggu kucing bersahabat dengan tikus (emangnya Tom and Jerry :p) alias ga mungkin githu lho !!.
Jangan pernah beralasan tanpa berbuat yaitu dengan mengatakan (selalu untung ga mau rugi he..he) "Untung saja hanya kedelai (bukan termasuk salah satu dariJ 9 bahan pokok) coba kalau beras kita bisa ga makan". Seharusnya kita memperkuat ketahanan pangan kita di seluruh produk-produk petanian tanpa terkecuali bukannya mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan apa yang kita perbuat selama ini. Apa ga malu dengan Negara Vietnam? Pada tahun 80-an Vietnam masih dilanda perang saudara bahkan dengan Amerika (yang dimana Rambo sebagai jagoannya) dan luas wilayahnya pun hanya 329.560 km2 bandingkan dengan Indonesia yang luasnya hampir mencapai 2 juta km2 tetapi kenapa Vietnam bisa dinobatkan sebagai penghasil beras terbesar dunia? Vietnam juga telah memiliki pangsa pasar beras sebesar 40-45% kebutuhan beras pasar dunia dan yang paling menyakitkan adalah kita sebagai negara agraris harus melakukan impor beras dari Vietnam untuk mengatasi kekurangan pasokan beras serta menstabilkan harga beras secara nasional sebanyak 1, 5 juta ton/tahun. So, Apa yang harus kita lakukan? tidak ada jalan lain selain kita harus mandiri dan terbebas dari campur tangan asing. Anda siap?
Penulis adalah: Alumni IPB Bogor/dosen di berbagai PTS dan Pascasarjana MM Nommensen Medan/Direktur Eksekutif Dairi Research and Development Center (DaiRedC)
[SB] Tags : Ir. Bridon Silaban MKom. MBA Sumber : ___ Medan Bisnis Online
: acioahmad.blogspot.com
Nama : Ahmad Abdillah Martak
NPM : 03.2008.1.06549
No Absen : 11
Kelas : A
TTD :
MASALAH pangan dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi topik sentral di dunia, termasuk negara subur seperti Indonesia. Sejak 2007, Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang rawan pangan, bersama 37 negara lainnya. Antara lain Irak, Afghanistan, Korea, Timor Leste, Bangladesh, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.
Untuk sementara, tingkat bencana alam, seperti banjir, gempa, kekeringan, dan longsor diperkirakan menjadi salah satu penyebab kerawanan pangan di Indonesia. Demikian Corps Prospect and Food Situation sebagaimana dirilis lembaga pertanian dan pangan dunia, Food and Agriculture Organization (FAO).Beberapa tahun sebelumnya, kita pernah digemparkan oleh berita krisis pangan, seperti busung lapar yang diderita oleh anak-anak balita. Sekitar tahun 2006, sekitar 2-4 anak dari 10 anak di 72% kabupaten seluruh Indonesia diperkirakan menderita kurang gizi. Pada 11 November sampai 7 Desember tahun 2005, di Yahukimo, Papua 55 warganya meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan pangan.
Beberapa dasawarsa sebelumnya, ketahanan pangan Indonesia sangat kuat. Lumbung-lumbung pangan dihidupkan di mana-mana. Indonesia tahun 1985 pernah mendapat penghargaan medali emas dari FAO karena kekuatan pangan yang dimilikinya. Indonesia berhasil mengalahkan China dan India yang sama-sama duduk jadi nominasi kuat. Berkat torehan itu, Indonesia sangat disegani, sehingga dijuluki sebagai “macan Asia”.
Presiden SBY mengatakan, dari sekitar 6,3 miliar jumlah penduduk dunia, 200 juta orang tidak dapat tidur karena kelaparan. Dengan demikian, kerentanan pangan tidak hanya menjadi persoalan kita saja, melainkan persoalan dunia. Pada tahun 2007, penduduk Indonesia diperkirakan sudah mencapai 232,9 juta dan 236,4 juta pada tahun 2008. Tahun 2050 diperkirakan akan berjumlah 280 juta jiwa. Laju perkembangan penduduk yang cepat mendatangkan persoalan tersendiri dalam masalah ekonomi. Kira-kira begitu yang diyakini para ekonom seperti Thomas Robert Maltus, David Ricardo, Roy Forbes Harrod, dan Evsey D. Domar.
Krisis pangan dapat terjadi ketika antara produksi dan tingkat konsumsi tidak berimbang. Tahun 1997-2002, tingkat produksi kebutuhan pokok terus menurun. Pada tahun 2003 saja, kita hanya mampu memproduksi beras sekitar 31,2 juta ton, sementara seiring laju penduduk kebutuhan konsumsi terus meningkat 2,5%-4%. Sektor kedelai lebih parah lagi. Pengamat pertanian Sapuan Gafar menjelaskan, dari tahun 1999-2007 impor kedelai melebihi 1 juta ton dengan tingkat produksi 0,6 juta ton tahun 2007. Padahal tahun 1992, Indonesia mampu memproduksi 1,8 juta ton kedelai.
Masalah kerentanan pangan harus cepat dicarikan solusinya. Beberapa langkah strategis perlu dilakukan, Misalnya intensifikasi pertanian, restrukturisasi industri pascapanen, atau mengkaji ulang retribusi. Tidak kalah pentingnya menempatkan posisi koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai salah satu lembaga perekonomian yang mendorong usaha kemandirian pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) pernah mengeluarkan hasil risetnya pada tahun 2004 bahwa sumbangsih perdagangan dalam negeri banyak diperankan oleh UKM. Dari seluruh produksi UKM yang sebesar Rp 1.107,54 triliun, sekitar Rp 439,86 triliun atau 39,72%-nya berasal dari nilai produksi yang diberikan UKM berbasis pangan. Jadi, sudah seharusnya perhatian tertuju pada kekuatan UKM dalam membangun ketahanan pangan di Indonesia.
Keberadaan UKM patut diperhatikan oleh semua pihak dalam membangun ketahanan pangan. Kasus kenaikan harga kedelai dapat menjadi pelajaran. Di Purwodadi diperkirakan sekitar 115 pengusaha tahu dan tempe gulung tikar akibat kenaikan harga kedelai. Berdasarkan data IKM Depperin, terdapat sekitar 96.000 unit pengusaha tahu dan tempe yang terancam bangkrut akibat kenaikan harga kedelai. Sesuai UU No.25/2000, pemerintah pernah mencoba mencanangkan peningkatan ketahanan pangan yang sebagian di antaranya mencakup pengembangan bisnis dan kelembagaan pangan. Berdasarkan hal tersebut, revitalisasi UKM dalam membangun ketahanan pangan perlu dilakukan, seperti memberikan subsidi pangan bagi usaha kecil dan menengah.
Tampaknya ada beberapa kendala yang mungkin akan dihadapi dan perlu diantisipasi oleh UKM dalam menjalankan gerak usahanya, khususnya UKM pangan. Pertama, lemahnya akses modal. Sampai saat ini akses modal masih menjadi persoalan bagi pengembangan unit-unit UKM, seperti dikeluhkan oleh para pengusaha/pengrajin. Masih tingginya suku bunga kredit di bank memperlambat pertumbuhan UKM.Kendala ini dirasakan oleh sekitar 61% UKM dari 42 juta unit UKM di Indonesia. Salah satu kendalanya terkait sertifikasi tanah, sehingga UKM susah mendapat kredit dari perbankan. Sementara ini realisasi sertifikat tanah hanya 32,57% dari target tahun 2006. Target sertifikat tanah tahun 2007 sekitar 13.000 yang digabung dengan target 2006 sebanyak 10.240 unit.
Sekalipun Inpres No 06/2007 mendesak memperkuat sektor riil, tetapi realisasinya masih minim. Kondisi tersebut menjadikan akses modal bagi UKM tersendat. Karena itu semua pihak harus memberikan ruang dan peluang akses modal bagi UKM.
Kedua, kendala dalam akses pasar. Masalah akses pasar menjadi persoalan bagi UKM. Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) pernah menjelaskan bahwa dari sekitar 41 juta unit UKM, hanya 10 persen saja yang mampu menembus pasar luar negeri. Selain itu, sebagian besar UKM sangat lemah dalam mempromosikan produknya sehingga cenderung kalah bersaing. Karena itu, dorongan pemerintah dan swasta diperlukan untuk memperkuat akses pasar UKM.
Ketiga, tumpuannya terletak pada kualitas sumber daya manusia UKM. Jika dilihat dari segi pendidikan, rata-rata tingkat pendidikan pengusaha UKM 60% berpendidikan SLTA, 35% sampai SLTP, dan hanya 5% berpendidikan sarjana. Dari statistik tersebut, problem pengetahuan masih jadi problem di kalangan UKM. Selain itu, masalah produktivitas, etos kerja, profesionalitas, dan kemampuan manajerial.Apa pun masalahnya, melakukan revitalisasi UKM sebagai salah satu unit terpenting dalam membangun ketahanan pangan di Indonesia mendesak direalisasikan. Dengan begitu, pembangunan bangsa melalui ketahanan pangan berbasis UKM dapat tergapai.
v Apa yang ditakuti bangsa Indonesia bener-bener terjadi.
Harga dan pemenuhan kebutuhan pokok warga yang berbasis pertanian sudah didikte oleh bangsa lain. Hampir seluruh produk pertanian yang ada di Indonesia sekarang ini tidak terlepas dari cengkraman asing. Kenaikan harga-harga komoditas pertanian di tingkat harga dunia dapat dipastikan akan mempengaruhi tingkat harga lokal di Indonesia. Kenapa harga-harga produk pertanian dunia naik? Tentu saja kenaikan produk pertanian tidak terlepas dari naiknya tingkat harga minyak mentah dunia yang begitu tinggi sehingga negara-negara maju mengantisipasinya dengan cara menggantikan minyak mentah dengan biofuel yang dimana biofuel hanya dapat dihasilkan dari produk-produk pertanian.
Amerika Serikat contohnya, AS merupakan negara penghasil kedelai terbesar di dunia tetapi setelah harga minyak mentah naik. AS merubah sebagian hasil kedelainya ± 15% menjadi biofuel. Otomatis harga kedelai akan naik karena supply kedelai tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat akan kedelai yang semakin meningkat. Tidak hanya kedelai, komoditas lainnya seperti beras, gandum, jagung dan minyak sawit terkena imbas lonjakan harga akibat pengalihan minyak mentah tersebut.
Harga kedelai dunia saat ini naik 100% yaitu dari ±300 dolar AS per ton pada awal tahun 2007 menjadi ±600 dolar AS per ton pada akhir tahun 2007. Begitu pula dengan komoditas lainnya (2 tahun terakhir) beras naik 18,25% dari $274,67 menjadi $324,8 per ton, Gandum naik 108,02% dari $180,01 menjadi $374,45 per ton, Jagung naik 48,76% dari $53,98 menjadi $80,3 dan minyak sawit naik 124,28% dari $420,23 menjadi $942,5. Padahal untuk diketahui saja, kita adalah salah satu importir terbesar kedelai yaitu sebesar 68,5% dari kebutuhan nasional, importir jagung sebesar ±25%, dan yang paling parah adalah gandum/terigu yaitu 100% kebutuhan nasional kita import seluruhnya dari Amerika Serikat.
Pada awal januari 2007 lalu harga lokal kedelai eceran masih sekitar Rp 3.450 tetapi setelah AS mengeluarkan kebijakan pengalihan minyak mentah dengan biofuel sekarang harga lokal kedelai telah berubah menjadi Rp 7.500/kg. Harga kedelai dan komoditas lainnya diprediksi akan terus mengalami kenaikan seiring naiknya harga minyak mentah di pasar dunia yang semakin tinggi dan lahan pertanian kedelai yang tiap tahunnya mengalami penyusutan. Menunggu turunnya harga kedelai dan komoditas lainnya tanpa kita berusaha mencoba untuk memproduksi kebutuhan sendiri sama saja menunggu kucing bersahabat dengan tikus (emangnya Tom and Jerry :p) alias ga mungkin githu lho !!.
Jangan pernah beralasan tanpa berbuat yaitu dengan mengatakan (selalu untung ga mau rugi he..he) "Untung saja hanya kedelai (bukan termasuk salah satu dariJ 9 bahan pokok) coba kalau beras kita bisa ga makan". Seharusnya kita memperkuat ketahanan pangan kita di seluruh produk-produk petanian tanpa terkecuali bukannya mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan apa yang kita perbuat selama ini. Apa ga malu dengan Negara Vietnam? Pada tahun 80-an Vietnam masih dilanda perang saudara bahkan dengan Amerika (yang dimana Rambo sebagai jagoannya) dan luas wilayahnya pun hanya 329.560 km2 bandingkan dengan Indonesia yang luasnya hampir mencapai 2 juta km2 tetapi kenapa Vietnam bisa dinobatkan sebagai penghasil beras terbesar dunia? Vietnam juga telah memiliki pangsa pasar beras sebesar 40-45% kebutuhan beras pasar dunia dan yang paling menyakitkan adalah kita sebagai negara agraris harus melakukan impor beras dari Vietnam untuk mengatasi kekurangan pasokan beras serta menstabilkan harga beras secara nasional sebanyak 1, 5 juta ton/tahun. So, Apa yang harus kita lakukan? tidak ada jalan lain selain kita harus mandiri dan terbebas dari campur tangan asing. Anda siap?
Penulis adalah: Alumni IPB Bogor/dosen di berbagai PTS dan Pascasarjana MM Nommensen Medan/Direktur Eksekutif Dairi Research and Development Center (DaiRedC)
[SB] Tags : Ir. Bridon Silaban MKom. MBA Sumber : ___ Medan Bisnis Online
: acioahmad.blogspot.com
Jumat, 23 Oktober 2009
Kamis, 01 Oktober 2009
MENGEMBARA KE ALAM JIN (part 3)
Jin kurang berhasil dalam usaha merosakkan iman manusia berbanding iman sesama jin. Ini karena manusia dan jin berlainan jenis, dan manusia tidak dapat nampak dan tidak dapat bergaul dengan mereka. Itupun banyak manusia yang kafir, banyak yang zalim dan yang fasik. Betapalah kalau jin dan manusia sama-sama dapat bergaul.Bila jin menjadi kafir, dia dipanggil syaitan. Syaitan itu maksudnya merasuk. Kerja jin kafir atau syaitan ialah merasuk dan menyesatkan orang. Jin Islam tidak dapat dikatakan syaitan.Kehidupan jin betul-betul macam manusia. Ada kerajaannya, ada masyarakat, ada kantornya, ada mahkamahnya, ada nikah kahwin. Tempat tinggal jin ajaib dan aneh. Ada yang tinggal di gunung-gunung, hutan-hutan, laut, kawasan sungai dan hulu-hulu sungai. Ada juga jenis jin yang bergaul dengan manusia.Jin yang tinggal di suatu negara, biasanya ikut bahasa manusia setempat. Kalau di Tanah Arab, jin berbahasa Arab, kalau di Tanah Melayu, jin berbahasa Melayu. Dia tidak tahu bahasa Arab. Kalau jin yang duduk di Negara Cina maka bahasanya bahasa Cinalah. Mereka pun belajar dan berguru dengan manusia.Rupa asal jin sangat hodoh (jelek) dan buruk. Ia menakutkan. Kalau manusia terlihat jin ini hidupnya jadi huru hara dan ketakutan. Manusia tidak akan aman. Dengan rahmat Tuhan, alam jin dihijab (ditutup) dari pandangan manusia. Tetapi alam manusia tidak dihijab dari pandangan jin. Sehodoh-hodoh manusia adalah secantik-cantik jin.Walaupun rupa asal jin itu jelek tapi dia dapat menyerupai berbagai rupa. Dia dapat merupa benda seperti kain, tas, batang kayu, binatang dan juga manusia, tetapi paling banyak dia menyerupai binatang. Ini termasuklah ular, kala jengking, lipan dan jenis-jenis binatang lain yang berbisa. Kalau dia menyerupai binatang seperti ini, rupanya lebih aneh dan lebih hebat dari yang biasa. Kalau dia dibunuh ketika dia sedang menyerupai binatang , dia akan mati.Sebab itu Tuhan ajar kita, kalau jumpa binatang berbisa di tengah jalan atau di dalam rumah, musti berhati-hati. Jangan langsung bunuh walaupun dalam Islam hukumnya sunat. Usir dua tiga kali dahulu. Kalau dia tidak lari baru dibunuh. Takut-takut dia adalah jin yang sedang berubah bentuk. Kalau kita terus bunuh dan dia sebenarnya jin yang sedang merupa, mungkin keluarganya akan marah dan akan bertindak terhadap kita. Banyak orang yang dirasuk dan diganggu oleh jin disebabkan mereka ada buat silap dengan jin. Kalau setelah dihalau dua tiga kali tetap juga tidak pergi maka jelas itu bukan jin. Dapat kita bunuh.Ada cerita dalam kitab, seorang soleh telah membunuh seekor ular. Maka pada malamnya, dia ditangkap dan dibawa oleh jin ke negeri jin. Di negeri jin itu berjalan hukum Islam. Hakim jin itu pun Islam. Maka orang soleh dan keluarga jin yang dibunuh oleh orang soleh tadi dibawa ke mahkamah. Bila perbicaraan bermula maka menangislah keluarga jin sambil berkata kenapa ahli keluarga mereka dibunuh. Bila hakim jin bertanya kepada orang soleh tersebut mengapa dia bunuh ular itu, dia menjawab karena dalam ajaran Islam, sunat hukumnya saya membunuh ular dan binatang-binatang yang berbisa. Saya buat atas arahan Tuhan dan saya dapat pahala. Yang salah adalah orang Tuan. Kenapa dia merupa ular. Salah dialah. Saya musti bunuh ular karena itu sunat hukumnya.Hakim jin menghukum bahwa yang salah dalam kes (kasus) ini bukan manusia tetapi pihak jin. Dia batalkan tuduhan. Hakim arahkan polisi jin supaya mengembalikan orang soleh itu kembali ke alam manusia. Kalau dia bukan orang soleh dan tidak dapat menjawab sudah tentu dia kena hukum. Orang soleh itulah yang menulis kisah ini dalam kitab. Hujah ini hujah yang kuat.Umur jin sangat lama berbanding umur manusia yang lebih kurang 63 tahun. Jin dapat hidup sampai 1500 tahun hingga 2000 tahun. Ada jin yang hidup di zaman Rasulullah SAW yang masih hidup pada hari ini.Makanan jin adalah wap (uap) dari tulang dan tulang sum-sum binatang. Itu sebab dalam syariat Islam makruh kita memakan tulang dan tulang som-som. Ada lagi cerita tentang jin dalam kitab. Sesetengah orang soleh dapat menundukkan jin, mengguna dan memperalatkan mereka. Kita tahu, dalam sejarah, ada sahabat yang hilang unta di padang pasir. Di padang pasir banyak rijalul ghaib. Mereka berkata; Ya Rijalul ghaib, kembalikan untaku yang hilang. Maka unta itu dikembalikan. Ini tawassul namanya.Pernah Rasulullah SAW berjalan-jalan dengan beberapa orang sahabat dan singgah di suatu kampung jin. Rasulullah beritahu para sahabat supaya tunggu dan jangan ikut, sebab dia mahu masuk ke kampung jin untuk mengajar . Cerita ini masyhur dalam sejarah. Para sahabat hanya melihat asap. Sebab adakalanya jin menyerupai asap karena dia berasal dari api. Tetapi Rasulullah melihat betul-betul jin itu dan mengajar mereka pula.Ada cerita tentang Nabi Sulaiman di dalam Quran yang hendak membawa istana Balqis dari Yaman ke Palestin yang jauhnya beribu-ribu mil. Antara mukjizat Nabi Sulaiman diperintahnya jin untuk membawa istana tersebut. Jin pun bari tahu dia akan bawa istana itu kepada Nabi Sulaiman selama mana Nabi Sulaiman berubah tempat. Tidakkah itu hebat.Namun ada lagi yang lebih hebat. Seorang wali Allah yang bernama Asif Barhaya yang turut berada dalam majlis itu berkata saya dapat pindahkan istana Balqis ke hadapan tuan dalam sekelip mata. Maka tertantang jin. Dia hendak ambil hati Nabi Sulaiman dan hendak tunjuk bahwa dia gagah. Tetapi ada manusia bertaraf wali yang menantang dia.Rupanya di sini kalau ruh muqaddasah bekerja, jin pun dapat kalah. Rasulullah dapat tundukkan jin. Para wali juga dengan karomah mereka dapat menundukkan jin dengan kekuatan diri mereka sendiri. Tetapi kalau ada murid yang dapat nampak jin atau dapat gunakan jin, dan merasakan itu adalah karena berkat gurunya, maka dia akan selamat. Yang tidak selamat biasanya orang yang kasyaf, nampak jin dan dapat guna jin tapi tidak ada guru atau ada guru tetapi hatinya telah berubah. Dia rasa bukan berkat gurunya lagi tetapi dia rasa dirinya sudah jadi wali, sudah ada karomah sendiri. Itu yang rosak. Orang yang dapat arahkan jin dan nampak jin dengan berkat gurunya, kalau dia berhadapan dengan jin yang garang sangat atau degil sangat, maka biasanya ruh muqaddasah gurunya turut hadir atau dia jual nama gurunya.Begitulah rahsia jin. Jin ada disebut dalam Quran dan dalam hadis. Siapa menolak kewujudan jin ertinya dia menolak Quran dan Hadis. Jin macam malaikat juga. Quran kata ada, adalah. Tetapi aneh, tentang malaikat banyak orang terima tetapi tentang jin banyak orang tolak. Yang dikatakan orang Bunian, Kuntilanak, Pelesit, Tuyul, Polong, Langsui, Hantu Raya dan berbagai-bagai lagi itu asalnya ialah jin. Oleh karena sukunya dan perangainya tidak sama maka orang bedakan dengan nama-nama yang berlainan.Adapun orang yang berhubung dengan jin atas dasar mukjizat dan karomah, maka dia kuat. Jin pun takut dan hormat pada dia. Orang yang dapat berhubung dengan jin atas dasar berkat tuan guru, dia tidak dapat sekali-kali terputus dengan gurunya. Orang yang berusaha untuk berhubung dengan jin, itu dinamakan amalan atau ilmu khadam. Bahaya ilmu dan amalan khadam ini, dia terpaksa tunduk dengan jin. Jin akan bagi syarat buat begitu dan buat begini. Kadang-kadang arahan jin itu bertentangan dengan syariat. Ini yang rusak. Wallahu alam bishowab.
MENGEMBARA KE ALAM JIN (part 2)
Kehidupan jin betul-betul macam manusia. Ada kerajaannya, ada masyarakat, ada kantornya, ada mahkamahnya, ada nikah kahwin. Tempat tinggal jin ajaib dan aneh. Ada yang tinggal di gunung-gunung, hutan-hutan, laut, kawasan sungai dan hulu-hulu sungai. Ada juga jenis jin yang bergaul dengan manusia.Jin yang tinggal di suatu negara, biasanya ikut bahasa manusia setempat. Kalau di Tanah Arab, jin berbahasa Arab, kalau di Tanah Melayu, jin berbahasa Melayu. Dia tidak tahu bahasa Arab. Kalau jin yang duduk di Negara Cina maka bahasanya bahasa Cinalah. Mereka pun belajar dan berguru dengan manusia.Rupa asal jin sangat hodoh (jelek) dan buruk. Ia menakutkan. Kalau manusia terlihat jin ini hidupnya jadi huru hara dan ketakutan. Manusia tidak akan aman. Dengan rahmat Tuhan, alam jin dihijab (ditutup) dari pandangan manusia. Tetapi alam manusia tidak dihijab dari pandangan jin. Sehodoh-hodoh manusia adalah secantik-cantik jin.Walaupun rupa asal jin itu jelek tapi dia dapat menyerupai berbagai rupa. Dia dapat merupa benda seperti kain, tas, batang kayu, binatang dan juga manusia, tetapi paling banyak dia menyerupai binatang. Ini termasuklah ular, kala jengking, lipan dan jenis-jenis binatang lain yang berbisa. Kalau dia menyerupai binatang seperti ini, rupanya lebih aneh dan lebih hebat dari yang biasa. Kalau dia dibunuh ketika dia sedang menyerupai binatang , dia akan mati.Sebab itu Tuhan ajar kita, kalau jumpa binatang berbisa di tengah jalan atau di dalam rumah, musti berhati-hati. Jangan langsung bunuh walaupun dalam Islam hukumnya sunat. Usir dua tiga kali dahulu. Kalau dia tidak lari baru dibunuh. Takut-takut dia adalah jin yang sedang berubah bentuk. Kalau kita terus bunuh dan dia sebenarnya jin yang sedang merupa, mungkin keluarganya akan marah dan akan bertindak terhadap kita. Banyak orang yang dirasuk dan diganggu oleh jin disebabkan mereka ada buat silap dengan jin. Kalau setelah dihalau dua tiga kali tetap juga tidak pergi maka jelas itu bukan jin. Dapat kita bunuh.Ada cerita dalam kitab, seorang soleh telah membunuh seekor ular. Maka pada malamnya, dia ditangkap dan dibawa oleh jin ke negeri jin. Di negeri jin itu berjalan hukum Islam. Hakim jin itu pun Islam. Maka orang soleh dan keluarga jin yang dibunuh oleh orang soleh tadi dibawa ke mahkamah. Bila perbicaraan bermula maka menangislah keluarga jin sambil berkata kenapa ahli keluarga mereka dibunuh. Bila hakim jin bertanya kepada orang soleh tersebut mengapa dia bunuh ular itu, dia menjawab karena dalam ajaran Islam, sunat hukumnya saya membunuh ular dan binatang-binatang yang berbisa. Saya buat atas arahan Tuhan dan saya dapat pahala. Yang salah adalah orang Tuan. Kenapa dia merupa ular. Salah dialah. Saya musti bunuh ular karena itu sunat hukumnya.Hakim jin menghukum bahwa yang salah dalam kes (kasus) ini bukan manusia tetapi pihak jin. Dia batalkan tuduhan. Hakim arahkan polisi jin supaya mengembalikan orang soleh itu kembali ke alam manusia. Kalau dia bukan orang soleh dan tidak dapat menjawab sudah tentu dia kena hukum. Orang soleh itulah yang menulis kisah ini dalam kitab. Hujah ini hujah yang kuat.Umur jin sangat lama berbanding umur manusia yang lebih kurang 63 tahun. Jin dapat hidup sampai 1500 tahun hingga 2000 tahun. Ada jin yang hidup di zaman Rasulullah SAW yang masih hidup pada hari ini.Makanan jin adalah wap (uap) dari tulang dan tulang sum-sum binatang. Itu sebab dalam syariat Islam makruh kita memakan tulang dan tulang som-som. Ada lagi cerita tentang jin dalam kitab. Sesetengah orang soleh dapat menundukkan jin, mengguna dan memperalatkan mereka. Kita tahu, dalam sejarah, ada sahabat yang hilang unta di padang pasir. Di padang pasir banyak rijalul ghaib. Mereka berkata; Ya Rijalul ghaib, kembalikan untaku yang hilang. Maka unta itu dikembalikan. Ini tawassul namanya.Pernah Rasulullah SAW berjalan-jalan dengan beberapa orang sahabat dan singgah di suatu kampung jin. Rasulullah beritahu para sahabat supaya tunggu dan jangan ikut, sebab dia mahu masuk ke kampung jin untuk mengajar . Cerita ini masyhur dalam sejarah. Para sahabat hanya melihat asap. Sebab adakalanya jin menyerupai asap karena dia berasal dari api. Tetapi Rasulullah melihat betul-betul jin itu dan mengajar mereka pula.Ada cerita tentang Nabi Sulaiman di dalam Quran yang hendak membawa istana Balqis dari Yaman ke Palestin yang jauhnya beribu-ribu mil. Antara mukjizat Nabi Sulaiman diperintahnya jin untuk membawa istana tersebut. Jin pun bari tahu dia akan bawa istana itu kepada Nabi Sulaiman selama mana Nabi Sulaiman berubah tempat. Tidakkah itu hebat.Namun ada lagi yang lebih hebat. Seorang wali Allah yang bernama Asif Barhaya yang turut berada dalam majlis itu berkata saya dapat pindahkan istana Balqis ke hadapan tuan dalam sekelip mata. Maka tertantang jin. Dia hendak ambil hati Nabi Sulaiman dan hendak tunjuk bahwa dia gagah. Tetapi ada manusia bertaraf wali yang menantang dia.Rupanya di sini kalau ruh muqaddasah bekerja, jin pun dapat kalah. Rasulullah dapat tundukkan jin. Para wali juga dengan karomah mereka dapat menundukkan jin dengan kekuatan diri mereka sendiri. Tetapi kalau ada murid yang dapat nampak jin atau dapat gunakan jin, dan merasakan itu adalah karena berkat gurunya, maka dia akan selamat. Yang tidak selamat biasanya orang yang kasyaf, nampak jin dan dapat guna jin tapi tidak ada guru atau ada guru tetapi hatinya telah berubah. Dia rasa bukan berkat gurunya lagi tetapi dia rasa dirinya sudah jadi wali, sudah ada karomah sendiri. Itu yang rosak. Orang yang dapat arahkan jin dan nampak jin dengan berkat gurunya, kalau dia berhadapan dengan jin yang garang sangat atau degil sangat, maka biasanya ruh muqaddasah gurunya turut hadir atau dia jual nama gurunya.Begitulah rahsia jin. Jin ada disebut dalam Quran dan dalam hadis. Siapa menolak kewujudan jin ertinya dia menolak Quran dan Hadis. Jin macam malaikat juga. Quran kata ada, adalah. Tetapi aneh, tentang malaikat banyak orang terima tetapi tentang jin banyak orang tolak. Yang dikatakan orang Bunian, Kuntilanak, Pelesit, Tuyul, Polong, Langsui, Hantu Raya dan berbagai-bagai lagi itu asalnya ialah jin. Oleh karena sukunya dan perangainya tidak sama maka orang bedakan dengan nama-nama yang berlainan.Adapun orang yang berhubung dengan jin atas dasar mukjizat dan karomah, maka dia kuat. Jin pun takut dan hormat pada dia. Orang yang dapat berhubung dengan jin atas dasar berkat tuan guru, dia tidak dapat sekali-kali terputus dengan gurunya. Orang yang berusaha untuk berhubung dengan jin, itu dinamakan amalan atau ilmu khadam. Bahaya ilmu dan amalan khadam ini, dia terpaksa tunduk dengan jin. Jin akan bagi syarat buat begitu dan buat begini. Kadang-kadang arahan jin itu bertentangan dengan syariat. Ini yang tidak baik.Wallahu alam bishowab.Insan Kamil
Langganan:
Komentar (Atom)

